Rabu, 24 Juni 2015

Esensi Buka Bersama

Di bulan Ramadhan ini, fenomena unik terjadi dimana-mana. Yang bajunya minimalis menjadi hijabers. Yang bengal menjadi ustadz dan ustadzah. Tapi, ada satu fenomena khusus yang akan kubahas kali ini, yang benar-benar hanya terjadi pada bulan Ramadhan.

Buka bersama.

Istilah tersebut sudah tidak aneh lagi di kalangan masyarakat jaman sekarang. Mengadakan buka puasa bersama, di tempat yang sama, demi menjaga silaturahmi. Tunggu. Demi menjaga silaturahmi?

Demi menjaga silaturahmi? Demi menjaga silaturahmi? Demi menjaga silaturahmi?


Masih murnikah niat kita, mengadakan buka bersama demi menjaga silaturahmi? Ataukah sudah berubah menjadi unjuk gengsi?

Kalau memang benar demi menjaga silaturahmi, mengapa acara buka bareng ini seringkali diadakan di tempat yang mahal? Apakah kita malu ketika mengadakan buka bersama di tempat yang kecil dan "murahan"? Apakah kita malu ketika mengabadikan momen tersebut ke dalam sebuah foto? Apa sebenarnya yang ingin kita dapatkan dari buka bersama? Perasaan bahagia karena telah menyambung kembali tali silaturahmi, ataukah rasa bangga ketika berfoto di depan sebuah restoran mahal?

Mungkin seharusnya kita malu dengan orang-orang yang kurang mampu, yang terkadang harus berbuka dengan air wudhu dari masjid dan menunggu belas kasihan DKM yang memberi jatah takjil gratis.

Betapa indahnya jika kita dapat merajut kembali tali silaturahmi yang tengah meregang di sebuah tempat yang sederhana, dimana kita dapat benar-benar tersenyum dan tertawa lepas dan berbagi beban satu sama lain. Namun pada akhirnya, gengsi selalu mendominasi. Hingga silaturahmi berganti menjadi unjuk gengsi.

Kesimpulan: Esensi buka bersama telah lenyap, nyaris tak bersisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar