Rabu, 24 Juni 2015

Uang Sebagai Tuhan

Aku merasakan bahwa akhir-akhir ini hidup semakin sulit. Harga-harga melambung tinggi. Makanan pokok semakin naik harganya. Premium yang sehari-hari digunakan sebagai bahan bakar motorku harganya begitu tinggi (untuk kalanganku). Masyarakat makin hari makin mengeluh tentang harga. Keluhan itu beranjak menuju keluhan pada wakil rakyat, menteri-menteri, dan presiden. Namun, semakin hari, masyarakat juga semakin konsumtif. Ironis.

"Money can't buy happiness." Aku masih percaya dengan kalimat tersebut. Sayangnya, kebanyakan manusia lainnya tidak berpikir begitu. Kini, manusia berusaha untuk mencapai kepuasan batiniah tertinggi dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan cara yang baik ataupun tidak, halal maupun haram.

Persetan dengan orang lain. Persetan dengan moral. Persetan dengan hukum.



Kita selalu mengeluh tentang harga, tapi berperilaku konsumtif seakan uang di seluruh dunia adalah milik kita. Haruskah aku sebutkan contoh-contohnya?

- Membeli gadget terbaru hanya demi dianggap "gaul", "keren", dan "up-to-date"
- Membeli baju, celana, tas, dan aksesori merek terkenal demi berpacu dengan mode
- Membeli makanan dan minuman di tempat mahal, lalu selfie dengan muka yang berkata "ini loh gue, baru makan di tempat blablabla" biar terlihat keren
- Dan masih banyak lagi contoh nyata di sekitar kita

Siapa yang harus disalahkan untuk semua ini?

Padahal uang, pada dasarnya, adalah sebuah konsep yang diciptakan manusia dalam rangka mempermudah pertukaran. Namun kini, kita telah dikuasai oleh konsep yang kita, manusia, ciptakan sendiri.

Apakah kita telah mencapai saat ketika manusia menuhankan uang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar