Manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupannya. Jika benar begitu, mengapa manusia dapat menjalani "kesendirian"? Sebenarnya, apakah itu "kesendirian"?
Sebagai catatan, aku menulis entri ini di kamarku, di tengah kesendirian.
Mungkin, kesendirian berbeda makna bagi setiap manusia yang merasakannya. Ada orang yang menyukai kesendirian. Ada orang yang berlari dari kesendirian. Ada orang yang malu-malu mengakui kesendirian. Ada orang yang dengan bangga menikmati kesendirian. Ada orang yang menertawakan kesendirian. Ada orang yang ditertawakan karena kesendirian.
Kadang, kesendirian layaknya kamar penjara, dengan jeruji besi dan rantai yang mengikat tangan dan kaki, menjadikannya tidak bergerak dan mati rasa. Ingin keluar, tapi tidak bisa.
Kadang, kesendirian layaknya padang gersang yang luas, dengan sekuntum bunga melati tepat di tengahnya. Sebuah kekosongan yang indah. Sebagian orang mendambakan kesendirian, karena ketika kesendirian itu datang, mereka terpeluk olehnya. Mereka menari sendiri, berlari sendiri, melompat sendiri, tertawa sendiri. Bagi mereka, kesendirian merupakan penantian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar