Minggu, 21 Juni 2015

Tanya Kepada Batu

Coba bayangkan kalau benda mati bisa bicara. Mungkin menarik. Mungkin asyik.

Bayangkan ketika kita bisa bicara dengan batu. Mau nanya apa saja? Kalau aku, mungkin mau bertanya seperti ini:

"Batu, kenapa kamu sangat tangguh? Ajari aku biar bisa tangguh seperti kamu."
"Batu, kenapa kamu begitu pendiam? Ajari aku supaya kata-kataku tidak menyakiti orang-orang yang aku cintai."

"Batu, kenapa kamu begitu tabah? Kenapa kamu tidak pernah marah ketika diinjak, dilempar, bahkan ditendang? Ajari aku untuk menjadi tabah sepertimu."
"Batu, benarkah kamu selalu bertasbih kepada Tuhan? Malu aku, kalah denganmu."
"Batu, meskipun kecil, apakah kamu pernah minder? Aku yang sudah besar begini masih saja tidak percaya diri."
"Batu, kenapa kamu tidak pernah mengeluh? Teman-temanku saja mengeluh setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detiknya. Kalau mereka dikutuk jadi kamu, keluhan mereka berkurang atau malah bertambah ya?"
"Batu, kenapa kamu begitu bijak? Ketika kecil, kamu tidak pernah mengeluh. Ketika besar, kamu tidak pernah sombong. Aneh. Padahal, teman-temanku yang kecil selalu mengeluh, dan teman-temanku yang besar selalu sombong."
"Batu, apa kamu pernah berharap tidak menjadi batu? Teman-temanku banyak yang seperti itu. Yang tampan ingin menjadi kaya. Yang kaya ingin menjadi tampan. Yang tua ingin menjadi muda. Yang muda ingin selalu muda."

"Batu, kamu mau hidup tidak? Gantikan saja manusia. Karena, manusia sudah banyak yang menjadi batu. Bukan di daging. Bukan di darah. Tapi di hati."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar