Minggu, 21 Juni 2015

Filosofi Kopi Hitam

Aku paling suka dengan kopi hitam. Terutama yang tidak terlalu pahit, tapi juga tidak terlalu manis. Ya, seperti special mix lah kurang lebih. Kopi hitam membuatku terjaga di malam kelam maupun di pagi buta.

Kopi hitam berwarna hitam (ini sudah cukup jelas). Dia juga pahit dan sedikit manis (ini juga sepertinya sudah cukup jelas). Kopi hitam paling enak diseduh dengan air mendidih, supaya seluruh saripatinya terlarut. Biarpun begitu, kopi hitam biasanya tidak langsung diminum begitu dihidangkan. Karena panas. Bahkan kopi hitam seringkali masih tersisa di gelas ketika sudah dingin. Kopi hitam juga meninggalkan endapan atau ampas di dasar gelas.



Hidup ini penuh kejutan, kawan. Mungkin banyak ujian dan cobaan yang melanda di tengah jalan. Kita tidak akan tahu. Sama seperti kopi hitam, yang mungkin di dalamnya terdapat semut atau lalat atau bahkan tahi cicak yang jatuh saat sang pembuat kopi sedang tidak awas. Kita tidak akan tahu apa yang ada di balik kegelapan kopi itu. Kita hanya bisa percaya bahwa Tuhan menciptakan hidup sebegini adanya untuk kita. Sama halnya ketika kita percaya bahwa pembuat kopi selalu fokus dan tidak pernah meleng dari tugasnya.

Hidup ini selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Tapi banyak orang yang selalu mengeluh ketika berada di bawah dan lupa bersyukur ketika berada di atas. Banyak orang yang selalu menggerutu, bahkan mengutuk ketika tertimpa sial. Tapi lupa daratan ketika sedang mujur. Begitu pula dengan kopi hitam yang terdapat sisi manis maupun pahitnya. Tinggal sisi yang mana yang mau kita ingat.

Hidup ini memang penuh penderitaan. Namun, jika kita mau belajar dari penderitaan-penderitaan tersebut, mungkin ada sesuatu yang dapat kita ambil. Atau tidak.

Hidup ini terus berjalan, seperti upil yang tidak bisa (lebih tepatnya tidak ingin) kita masukkan kembali ke dalam hidung ataupun tahi kambing yang tidak akan pernah bisa kembali ke cerobong asapnya (mungkin saja secara teori). Yang penting adalah bagaimana kita menjalani hari yang akan selalu terlewati dengan berguna. Mungkin sama seperti kopi hitam yang bertahan lama walaupun sampai dingin. Kopi hitam yang berguna bagi jemari pecatur yang lelah kala berlaga, maupun bagi bibir yang terasa asam karena rokok yang sedang dihisap.

Terakhir, hidup manusia seperti kilat. Sekejap datang, lalu pergi. Seperti kentut yang hanya sesaat walaupun baunya bisa melekat. Manusia yang baik (menurut hematku) adalah manusia yang dapat meninggalkan impresi baik pada orang-orang yang mengenalnya. Seperti kentut yang baunya selalu teringat. Seperti kopi hitam yang menyisakan ampas di dasar gelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar