Senin, 13 Juli 2015

Malam Memperhatikan Langit Malam

Bintang di langit terang sekali malam ini. Bintang di langit bersinar menghiasi gelap malam dengan kelap-kelipnya yang kecil dan manja. Manis sekali. Semanis kenangan tentangmu yang kini tengah melintas di benakku.

Kenangan tentangmu mengalir. Memenuhi ruangan kecil ini dengan hangat dan rindu. Rasa yang telah lama hilang dari perbendaharaan rasa di otak yang rasanya hampir-hampir meledak. Ya, ia meledak-ledak berteriak merindukan interaksi yang dulu pernah singgah ke hati, namun kini telah sirna sepenuhnya.



Terkadang aku tidak bisa melihat bintang. Kadang ia tertutup awan. Kadang ia juga terselubung kabut malam yang dingin membekukan saraf tepi. Sekali-kali, ia menyelundupkan dirinya dibalik bayang-bayang sepi dari benda-benda antariksa, yang tersebar tak terhitung jumlahnya.

Lama-kelamaan, bintang itu pudar sinarnya. Dia tidak hilang. Dia meledak, lalu berubah. Dia bisa berubah menjadi bintang kerdil yang sinarnya telah lenyap. Sinarnya saja yang hilang. Dia tetap ada dan nyata, namun seringkali tak terlihat dan disingkirkan. Kadang, jika alam semesta ini tengah sial, dia berubah menjadi lubang hitam yang menghapuskan semua keberadaan. Bahkan cahaya yang sangat cepat masuk ke dalam sumber gravitasi itu, lalu lenyap tanpa bekas. Lubang hitam memang kejam. Dia rakus akan semua yang mendekat.

Aku ingin menjadi astronot, atau setidaknya ilmuwan yang bisa menerbangkan roket menuju bintang-bintang. Mungkin di sana, dapat kutemukan fragmen-fragmen ingatan manis. Fragmen ingatan tentangku dan tentangmu yang telah lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar